Pendapat Muhammad Iqbal tentang roh manusia
Muhammad Iqbal hidup pada tahun 1873-1934 adalah Filsafat ahli syair Pakistan yang memulai pelajarannya dengan menghafalkan Kitab Suci Al-Qur'an, lalu setelah menamatkan pelajaran di Lahore University dengan mendapatkan titel kesarjanaan, ia pindah ke Oxford University di London mempelajari filsafat, diteruskan ke Universitas Munchen di Jerman juga dalam mata pelajaran filsafat, lalu kembali ke tanah airnya tahun 1908 bekerja sebagai Advokat dan Penyair. Ia serang dengan sajak-sajak dan syairnya pelajaran tashauf asing yang menidurkan manusia, ia kobar-kobarkan sajak-sajak dan syair yang membangkitkan semangat perjuangan dan ketinggian ajaran agama Islam.
Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib selalu didengarkannya dengan sajak-sajak dan syair-syairnya yang amat indah, sebagai manusia tashauf yang telah dapat menggerakkan bangsanya untuk bekerja, berjihad dan berjuang mencapai ketinggian dan kemajuan dalam segala bidang.
Manusia yang kamil (sempurna) ialah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi bukanlah yang dimaksudkan dengan manusia yang dekat kepada Allah itu adalah manusia yang lenyap wujudnya di dalam wujud Allah sebagaimana banyak diajarkan oleh ahli-ahli tashauf dan filsafat timur, seperti filsafat Wihdatul Wujud Ibnul Araby dan Spinoza. Ia menghasung manusia untuk mengatasi segala macam kesulitan yang dihadapinya jangan gampang berputus asa, menyerah atau apatis. Buku-bukunya yang umumnya ditulisnya dalam bahasa Urdu, umumnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Inggris, juga kelain-lain bahasa. Diantaranya : Proses apa yang ada di balik alam, Pembaharuan pemikiran agama dalam Islam, Asraru Khudi (Rahasia Batin), Sayap Jibril, Hadiyah Hijaz dan lain-lain.
Mengenai roh manusia, Iqbal mengatakan bahwa roh itu adalah hasil perkembangan benda. Benda dalam bentuknya yang paling rendah adalah penuh dengan jiwa dunia. Dengan berhimpunnya jiwa-jiwa ini atau zat-zat dunia, prosesnya berkembang kepada keadaan tertentu yang menimbulkan roh atau jiwa atau Zat Tinggi.
Jadi menurut Iqbal roh tidak berasal dari tempat yang tinggi (alam tinggi atau langit), tetapi ia adalah proses tertinggi dari benda. Maka adalah mungkin bahwa roh itu akan kekal atau abadi buat selama-lamanya, berlainan dari benda yang akan terurai dan akan lenyap.
Iqbal tidak membedakan antara roh dan Nafs, kedua-duanya adalah satu. Bahkan Iqbal juga tidak membedakan antara roh dan jasad (tubuh). Kedua-duanya mempunyai asal yang satu , tetapi fungsi kedua-duanya berbeda, seperti bedanya fungsi mata dan telinga atau hidung.
Sumber dari buku HIDUP SESUDAH MATI, karya H.Bey Arifin

