Yang penting bersyukur

Hagoe's Village: Feb, 5th 2026
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh lebih 8000 orang tenaga honorer di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, terkait nasib dan masa depan mereka.
Ada yang sudah menanti belasan bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan status mereka sebagai abdi negara, karena selama belasan bahkan puluhan tahun itu mereka telah memberikan kontribusi terhadap negara dan daerah mereka.
Selama ini sebagian besarnya tidak mendapatkan gaji sama sekali atau sebagian kecilnya hanya mendapatkan gaji/upah yang jauh dari kata hidup layak sebagai manusia.
Dalam jumlah 8000 orang lebih itu termasuk tiga orang adikku yang bekerja sebagai tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan hewan yang telah mengabdi belasan tahun di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Hari ini mereka akan dilantik dan mendapatkan status sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh waktu, walaupun status ini masih jauh dari harapan.
Selain statusnya yang belum tetap, mereka juga hanya diberikan honor/upah 200-300 ribu rupiah setiap bulannya. Tetapi minimal keberadaan mereka sudah diakui di Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Sebuah kondisi anomali di negara ini, ribuan bahkan jutaan warga negara telah mengabdi kepada negara tetapi mereka tidak diberikan upah yang layak untuk hidup mereka.
Kontribusi mereka diperlukan dan diterima oleh negara tetapi mereka tidak diberikan gaji atas kerja kerasnya yang dalam hal ini adalah para guru/pendidik, tenaga kesehatan dan tenaga teknis lainnya.
Perlengkapan kerjaKetiga adikku sudah berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 pagi menuju lokasi kegiatan pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh waktu, yang dilaksanakan di lapangan upacara kantor Bupati Aceh Utara di Landeng.
Aku sendiri akan ke kantor Puskeswan Lhoksukon untuk melaksanakan tugasku sekitar pukul 08 pagi setelah sarapan pagi dan mengantarkan si kecil Alvira ke sekolahnya.
Istriku ikut denganku di pagi ini karena kami akan membeli beberapa barang di Keudee Lhoksukon. Dan aku sempat singgah di Puskeswan Matangkuli untuk melakukan presensi pagi ku.
Di kantor Puskeswan Lhoksukon aku melakukan beberapa kegiatan seperti membereskan logistik kegiatan vaksinasi PMK yang akan kami laksanakan dalam beberapa hari mendatang.
![]() | Lontong sayur |
|---|---|
![]() | Coffee Mix |
Di Warung kopiSetelah membereskan urusan ku di kantor Puskeswan, aku pun menuju Keudee Lhoksukon untuk menjemput istriku. Dan kemudian kami menuju arah pulang ke rumah kami di Matangkuli.
Dalam perjalanan pulang, kami singgah di sebuah warung kopi, karena istriku belum sempat sarapan tadi pagi.
Kami pun memesan masing-masing sepiring lontong sayur dan segelas coffee mix di warung kopi ini sebagai menu sarapan untuk istriku. Untuk ku sendiri ini merupakan cemilan saja, karena aku sudah sarapan pagi tadi dengan segelas kopi espresso panas tanpa gula dan sebutir telur rebus.
Tukang sedang bekerjaKemudian kami segera pulang ke rumah karena sebentar lagi istriku harus mengantarkan si kakak ke Simpang cibrek yang akan menumpang angkutan umum untuk menuju kampusnya di Buketrata Lhokseumawe.
Si kakak masih harus menyiapkan dan menyerahkan berkas-berkas untuk pelaksanaan ujian akhir atau sidang skripsinya yang menurut jadwal yang diberikan pihak kampus akan dilaksanakan pada hari Selasa besok.
Ketika tiba di rumah, aku menuju rumah adikku untuk melihat proses pembangunan dapur rumah adikku oleh seorang tukang. Dan tukang tersebut baru akan merampungkan finishing kamar mandi kami nanti sore setelah sholat Zuhur dan makan siang.
Adikku menerima SK sebagai PPPK paruh waktuDisebuah tempat yang lain (di lapangan upacara kantor Bupati Aceh Utara di Landeng), ribuan tenaga honorer di Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara sedang "bersuka cita" ditengah teriknya matahari di siang ini.
Meskipun belum sesuai harapan dan belum bisa menjamin kehidupan mereka, mereka tetap bersyukur telah ditetapkan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh waktu.
Gaji atau upah mereka yang hanya 200-300 ribu rupiah per bulannya seakan tidak terpikirkan oleh mereka. Yang penting status mereka sudah diakui oleh pemerintah.
Kami saja para ASN yang rata-rata mendapatkan gaji sekitar 5-6 juta perbulannya harus memutar otak agar bisa hidup dengan layak. Apalagi dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh waktu, dengan jerih yang hanya 200-300 ribu rupiah.
Kopi espressoSiang ini aku makan siang di rumah bersama keluargaku. Dan kemudian aku melaksanakan sholat Zuhur serta istirahat saja sambil menyiapkan postinganku untuk hari ini.
Sekitar pukul 02.30 sore, tukang yang membangun dapur rumah adikku mendatangi rumah ku untuk merampungkan proses finishing kamar mandi kami.
Aku pun membuatkannya kopi espresso, sekalian untukku sendiri di sore ini. Dan kegiatan finishing kamar mandi kami ini berlangsung singkat saja. Kemudian si tukang kembali melanjutkan pekerjaannya membangun dapur rumah adikku.
Kebun kamiSetelah selesai melaksanakan sholat ashar, aku menuju kantor Puskeswan Matangkuli untuk melengkapi presensi sore ku disana dan kemudian segera kembali ke rumah.
Setelah memarkirkan motor di halaman rumah kami, aku menuju kebun di seberang jalan rumah kami untuk melihat sisa-sisa penebangan kayu yang dilakukan oleh seorang tukang Chainsaw tadi pagi.
Di kebun kami ada sebatang pohon yang berukuran cukup besar dan sudah bisa ditebang untuk diambil kayunya. Untuk itu seorang tukang Chainsaw telah menebang dan membelah kayu tersebut pada tadi pagi.
Di pinggir sungai. Reels videoSetelah dari kebun, aku menuju pinggir sungai yang berbatasan langsung dengan kebun kami. Aku menikmati suasana sore di pinggir sungai ini bersama si kecil Alvira.
Kebetulan aku sempat membeli cemilan tadi saat menuju kantor Puskeswan Matangkuli sehingga kami bisa menikmati suasana sore di pinggir sungai dan juga cemilan yang ku beli tadi.
Sungai di depan rumahPemandangan sungai di sore ini terlihat begitu syahdu dengan airnya yang jernih dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, yang menghadirkan ketenangan dan rasa damai di jiwa.
Suasana yang demikian lah yang membuat aku suka untuk berada di pinggir sungai di depan rumah kami ini termasuk si kecil Alvira, anak bungsu kami.
Kami sangat bersyukur bisa tinggal di pedesaan dengan suasana alam yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa dan raga kami.
Setelah berada beberapa saat di pinggir sungai di depan rumah kami, kami pun kembali ke rumah karena sebentar lagi akan tiba waktu sholat magrib untuk wilayah kami.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 










