Aku Berhenti Sejenak untuk Mendengar Diri Sendiri

in STEEM Literacylast month (edited)

gambar.png

DI BAWAH naungan dedaunan yang berembus pelan, Aku duduk membelakangi dunia. Laut terbentang di hadapanku, biru yang tak pernah benar-benar diam. Dermaga memanjang seperti garis waktu—menghubungkan darat yang riuh dengan samudra yang jujur, tempat pikiranku bisa pulang tanpa ditanya.

Aku mengambil waktu. Bukan untuk lari, melainkan untuk mendengar kembali suara yang selama ini tertimbun: suara hati. Di antara debur ombak dan derit tali ayunan, Aku menghitung napas, membiarkan ingatan datang tanpa dipanggil. Ada penat yang belum selesai, ada harap yang sempat terabaikan. Semua Aku beri ruang, tak Aku hakimi.

Waktu melambat. Jam seakan sepakat beristirahat. Di kejauhan, kapal-kapal berlalu—mereka tahu tujuan. Aku tersenyum kecil; tak apa jika hari ini Aku belum tahu ke mana. Kadang, berhenti sejenak adalah cara paling jujur untuk melanjutkan.

Saat matahari menghangatkan punggungku, Aku paham: merenung bukan berarti menyerah. Ini adalah janji pada diriku sendiri—bahwa setiap langkah berikutnya akan Aku ambil dengan sadar. Aku bangkit perlahan, membawa ketenangan yang baru saja Aku temukan, seperti laut yang tetap luas meski gelombang datang dan pergi.