Ayah, Rumah Tempat Mereka Kembali
“Kebahagiaan bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang mensyukuri apa yang kita punya.”
Puluhan tahun hidupku berputar di satu poros: keluarga. Aku masih ingat suara tangis bayi pertama yang menggetarkan jantungku sebagai seorang Ayah. Aku ingat langkah kecil pertama yang membuatku bersyukur tanpa henti. Aku ingat malam-malam panjang, saat dunia terasa sepi, tapi rumah kecil kami penuh kehangatan. Anak sulungku lahir pada 1998, kini berusia 27 tahun—dewasa, berdiri di atas kakinya sendiri. Sementara si bungsu baru 12 tahun, masih memelukku erat setiap pulang kerja, seolah pelukannya adalah dunia yang paling aman.
“Kebahagiaan seorang Ayah bukanlah harta, melainkan tawa anak-anaknya yang tumbuh dalam damai.”
Tak ada perjalanan yang mudah. Aku pernah goyah, pernah lelah, pernah nyaris menyerah. Tapi setiap kali aku melihat wajah mereka saat tertidur—damai dan polos—ada kekuatan tak kasatmata yang membuatku berdiri lagi.
“Kadang, kebahagiaan datang dalam bentuk sederhana—sebuah pelukan kecil di sore hari, atau tawa yang pecah tanpa sebab.”
Kini, aku mulai belajar berjalan lebih pelan. Tak lagi secepat dulu. Aku tak ingin mengejar banyak hal, tak ingin menjadi siapa-siapa. Impianku sederhana saja: tetap sehat, tetap bahagia, dan cukup panjang umur untuk terus melihat senyum mereka. Karena senyum anak-anak adalah bentuk kebahagiaan yang tak bisa dibeli siapa pun.
“Aku tak butuh dunia, jika rumahku telah menjadi surga kecil yang membuatku ingin pulang setiap hari.”
Di usia yang semakin menua, aku hanya ingin menjadi rumah… tempat mereka bisa selalu kembali. Karena sejauh apa pun mereka melangkah, aku tetap Ayah mereka—sosok yang berdiri di ujung jalan, memandang dari jauh, dan mendoakan dalam diam.
“Bahagia bukan soal berapa lama hidupku… tapi tentang berapa sering aku melihat senyum mereka.”


