Bakso PakNu di Kota Banda Aceh dan Gerimis yang Bikin Syahdu
GERIMIS sore itu datang tanpa aba-aba. Langit Kota Banda Aceh tampak murung, seperti menahan tangis yang enggan jatuh deras. Namun saat itu jalan-jalan mulai terlihat basah, dan aroma tanah yang tersentuh hujan menyeruak pelan. Di bawah langit yang berwarna kelabu itu, saya dan putra saya, Alqif, memutuskan untuk singgah di sebuah tempat makan yang selalu ramai diperbincangkan Warung Bakso PakNu.
Saya belum pernah ke sana sebelumnya, meski beberapa kali ingin singgah namun selalu gagal. Jadi hari itu tampak spesial, bukan hanya karena pergi dengan putra kedua saya, tapi mungkin juga karena suasananya. Atau mungkin karena hujan yang menetes lembut dan membuat segala sesuatu tampak lebih syahdu. Di Banda Aceh, yang sering disebut Kota Serambi Mekkah, gerimis bukan sekadar cuaca — ia semacam pengingat, bahwa kehangatan sering hadir di tempat paling sederhana.
Warung Bakso PakNu tidak seperti warung bakso biasa. Begitu masuk, aroma kaldu daging yang kuat langsung menyambut. Di depan etalase panjang, aneka jenis bakso tersusun rapi — ada bakso urat, bakso keju, bakso ikan, hingga bakso mercon yang katanya bisa membuat kening berkeringat. Di sebelahnya, pangsit goreng keemasan dan tahu isi rebus berjejer menunggu untuk dicelupkan ke kuah panas.
Yang unik dari warung ini, pelanggan bebas memilih sendiri. Seolah-olah sedang berbelanja rasa. Masing-masing mengambil mangkuk, menjepit bakso favorit dengan penjepit logam, dan menatanya sesuai selera. Setelah itu, tinggal menuju ke meja kuah dan memilih: mau yang gurih kaldu, pedas, atau campuran keduanya.
Alqif tampak antusias. Dia berjalan di depan saya, matanya bergerak ke sana kemari seperti anak kecil di toko mainan.
“Yang ini enak, Yah?” tanyanya sambil menunjuk bakso isi telur puyuh.
“Suka-suka kamu, Qeep,” jawab saya sambil tersenyum. “Tapi hati-hati kalau ambil yang mercon, pedasnya bisa bikin kamu lupa daratan.”
Dia tertawa kecil. Suara tawanya bercampur dengan bunyi gemericik hujan di atap seng. Kami berdua lalu membawa mangkuk ke kasir, lalu mencari tempat duduk di pojok dekat jendela, tempat kami bisa melihat jalanan yang mulai licin dan orang-orang berlarian mencari teduh.
Ketika mangkuk bakso itu datang ke meja, uapnya langsung memenuhi udara di sekitar. Hangat. Menenangkan. Saya menunduk sejenak, mencium aromanya. Ada sesuatu yang selalu membuat saya tenang setiap kali menikmati bakso — mungkin karena ia membawa kenangan masa muda, atau karena kesederhanaannya yang jujur.
Alqif mulai menyendok bakso dengan hati-hati. “Enak, Yah,” katanya sambil meniup uap dari sendok.
Saya mengangguk, ikut mencicipi. Kuahnya gurih, tidak terlalu asin, tapi beraroma kuat — seperti daging yang dimasak dengan sabar. Teksturnya kental, mengalir lembut di lidah. Di luar, gerimis belum berhenti. Tapi justru karena itu, bakso terasa jauh lebih nikmat.
Kami makan perlahan. Kadang berbincang, kadang diam, hanya menikmati suara hujan dan desis air yang menetes dari pinggir atap. Di meja sebelah, sepasang mahasiswa sedang tertawa pelan sambil berbagi pangsit goreng. Di sisi lain, seorang bapak paruh baya duduk sendiri, menatap ke luar jendela sambil menyeruput kuah panasnya. Semua tampak damai dalam ruang kecil beraroma kaldu itu.
“Yah, Banda Aceh kalau hujan gini indah, ya?” kata Alqif tiba-tiba.
Saya menatap keluar. Jalanan terlihat seperti kaca panjang yang memantulkan cahaya lampu kendaraan.
“Iya,” jawab saya pelan. “Kota ini selalu punya caranya sendiri untuk menenangkan hati.”
Kami lalu kembali makan. Sesekali, Alqif menambahkan sambal, lalu mengernyit karena kepedasan. Saya tertawa melihatnya.
“Sudah dibilang, jangan bakso mercon,” goda saya.
Dia tertawa juga, matanya memerah sedikit, tapi wajahnya bahagia. Di antara tawa kecil itu, ada sesuatu yang hangat mengalir di dada saya — rasa syukur yang sulit dijelaskan. Bahwa di tengah rutinitas, di antara gerimis dan aroma bakso, saya masih bisa duduk berdua dengan anak saya, berbagi waktu dan cerita kecil seperti ini.
Ketika mangkuk kami mulai kosong, hujan di luar mulai reda. Langit tampak lebih terang, dan dari kejauhan, kubah masjid memantulkan cahaya sore yang lembut. Banda Aceh seperti baru saja selesai berwudhu — bersih, sejuk, penuh berkah.
Kami keluar dari warung. Angin lembap menyapa, membawa sisa aroma kaldu dari dapur belakang. Di trotoar yang masih basah, saya dan Alqif berjalan pelan. Saya sempat menoleh ke belakang — Warung Bakso PakNu masih ramai. Asap kuah masih menari di udara, tawa pelanggan bersahutan, dan seorang pelayan muda sibuk menata bakso baru di etalase.
Saya menatap wajah Alqif yang berjalan di samping saya. Ada kedewasaan kecil yang mulai tumbuh di sana, tapi juga ada sisa bocah yang dulu selalu saya gendong saat hujan pertama turun.
“Yah,” katanya tiba-tiba, “lain kali kita ke sini lagi, ya. Tapi aku yang traktir.”
Saya tersenyum. “Boleh,” jawab saya. “Tapi pastikan kamu sudah kerja dulu.”
Kami tertawa bersamaan. Langit Banda Aceh mulai memudar ke jingga. Di kejauhan, suara azan magrib mengalun dari menara masjid. Gerimis telah pergi, meninggalkan udara yang wangi dan hati yang penuh.
Di bawah langit Serambi Mekkah, saya menyadari satu hal — bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia hanya sesederhana semangkuk bakso hangat di tengah gerimis, dan percakapan singkat antara seorang ayah dan anaknya.





