Kindle, Tan Malaka, dan Malam-Malam yang Mengajarkan Saya Banyak Hal
ADA kalanya sebuah benda kecil bisa membuka pintu yang luas ke dunia yang tak pernah saya duga. Bagi saya, itu adalah Kindle—perangkat mungil yang pertama kali saya kenal lewat anak saya di Malaysia. Awalnya saya mengira itu cuma tablet kecil, semacam gawai biasa yang disukai anak-anak zaman sekarang. Tapi ketika ia pulang lebaran setahun lalu dan meletakkan perangkat itu di meja ruang tamu, saya sadar ada sesuatu yang berbeda.
“Kecil ya?” kataku waktu itu.
“Iya, Ayah. Tapi isinya bisa lebih banyak dari rak buku di rumah kita,” jawabnya sambil tersenyum.
Ia menunjukkan bagaimana Kindle bekerja. Halaman-halaman yang muncul di layar tidak memancarkan cahaya tajam seperti smartphone, melainkan semacam tinta elektronik yang lembut, membuat mata terasa nyaman, seolah saya membaca dari kertas. Bahkan ketika saya menatap layar itu lama-lama, saya tidak merasa lelah. Rasanya seperti memegang buku yang tak habis-habis.
Anak saya bercerita bahwa perangkat itu harganya sekitar 900 Ringgit Malaysia saat ia membelinya. Bagi saya, itu bukan harga kecil, tapi saya tahu ia membelinya bukan untuk gaya-gayaan. Ia memang suka membaca, dan tampaknya Kindle memberinya dunia baru. Saya ikut senang, meski pada waktu itu saya tidak terlalu memikirkan apakah saya membutuhkannya atau tidak.
Dua bulan lalu, barulah perjalanan saya dengan Kindle benar-benar dimulai. Anak saya memberi tahu bahwa aplikasi Kindle bisa dipasang di tablet. Saya sudah lama memakai Samsung Galaxy Tab S6, tapi sebagian besar hanya untuk berkomunikasi dan bekerja. Saat dia meminta tablet saya untuk dipasang Kindle, saya langsung setuju tanpa banyak pertimbangan. Rasanya seperti membuka pintu rumah untuk sahabat lama yang baru saya tahu keberadaannya.
Ketika aplikasi itu siap digunakan, saya seperti menemukan harta karun. “Ayah bisa unduh buku apa pun, gratis dan legal,” katanya. Saya tersenyum, tapi ketika mulai membaca, saya lebih dari sekadar senang—saya terpikat.
Malam itu, saya memilih sebuah buku yang sejak lama ingin saya baca: Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan, dari Seri Buku TEMPO. Sampul buku itu terpampang jelas di layar tablet saya. Gambarnya kuat—wajah Tan Malaka digambar dengan guratan tegas, tatapannya penuh tekad, seolah menembus waktu untuk mengingatkan pembacanya tentang kisah panjang seorang pejuang yang lama disisihkan dari ingatan bangsa.
Saya membaca halaman demi halaman sambil duduk di sebuah warung kopi. Di sekeliling saya, suara orang bercakap-cakap berbaur dengan denting sendok dan aroma kopi hitam yang pekat. Namun di dalam layar, saya masuk ke dunia lain—ke masa ketika Tan Malaka bergerak dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, untuk memperjuangkan ide tentang republik, jauh sebelum para pemimpin bangsa merumuskan proklamasi.
Membaca kisah Tan Malaka dengan Kindle memberikan pengalaman berbeda. Rasanya seperti mengenal sosoknya lebih dekat. Tak ada gangguan cahaya yang menusuk mata. Tak ada notifikasi yang tiba-tiba mengganggu konsentrasi. Saya merasa seperti duduk di sudut perpustakaan tua, ditemani lembaran sejarah yang pelan-pelan membuka diri.
Saya terhenyak ketika membaca bagian tentang pengasingan panjangnya. Betapa ia bergerak dalam bayang-bayang, berjuang tanpa panggung, sering kali tanpa pengakuan. Ia hidup sebagai buronan, sebagai guru, sebagai penulis, dan sebagai pemikir. Ia menulis Madilog, karya besar yang menjadi fondasi pemikiran kritis bangsa ini. Ia percaya bahwa republik adalah masa depan, bahkan sebelum kata itu menjadi tujuan nasional.
Di saat-saat itu, saya merasa Kindle bukan lagi sekadar aplikasi atau perangkat. Ia menjadi pintu yang membawa saya ke berbagai zaman, berbagai tempat, dan berbagai pikiran besar. Di layar tablet saya yang tak lebih dari sekian inci itu, saya merasa bisa menampung dunia.
Saya tidak bisa tidak mengingat perjalanan hidup saya sendiri—bagaimana saya tumbuh di Aceh, bagaimana sejarah dan pergolakan selalu menjadi bagian dari cerita kami. Membaca tentang Tan Malaka membuat saya memikirkan tentang republik, tentang tanah air, tentang bagaimana bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang mungkin tak pernah diberi tempat terhormat dalam buku-buku pelajaran.
Malam itu berlalu pelan. Saya terhanyut dalam kisah Tan Malaka hingga saya hampir tidak merasa waktu berjalan. Di depan saya, orang-orang terus bercakap-cakap, tapi saya seperti berada di dunia yang lain—dalam perjalanan panjang seorang tokoh yang sering dikesampingkan oleh sejarah resmi, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Sesekali saya menatap layar tablet dan tersenyum. Teknologi ini memang ajaib. Dulu, membaca berarti membuka buku tebal yang harus dibawa ke mana-mana. Sekarang, semua itu bisa dimasukkan ke dalam satu perangkat mungil. Bahkan lebih dari itu, ia memberi kesempatan kepada orang-orang seperti saya—yang sibuk, yang sering lupa meluangkan waktu untuk membaca—untuk kembali menikmati dunia kata-kata.
Ketika akhirnya saya menutup aplikasi Kindle dan memandang sekitar, saya merasa ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Kindle telah memberi jalan bagi saya untuk kembali membaca dengan tekun. Dan Tan Malaka, dalam kisahnya yang penuh liku, memberi saya perspektif baru tentang sejarah dan perjuangan.
Di perjalanan pulang malam itu, saya merasa seperti membawa pulang cahaya kecil. Bukan cahaya dari layar tablet, tetapi cahaya dari pengetahuan—dari kisah seorang pejuang yang pernah dilupakan, dan dari teknologi yang memungkinkan saya mengenalnya kembali.
Dan di antara keduanya—Kindle yang modern dan Tan Malaka yang klasik—saya menemukan kembali kenikmatan membaca yang selama ini mungkin hilang dalam kesibukan hidup sehari-hari.




