My Beloved, Senyum yang Ingin Kujaga Sampai Akhir

in STEEM Literacy3 months ago

20250928_124848.jpg

20250928_124901.jpg

20250928_124848-COLLAGE.jpg

20250928_125039.jpg


SORE ITU saya duduk tidak jauh dari meja tempat dua putri saya bercengkerama. Mereka duduk bersebelahan, tertawa kecil sambil berfoto bersama. Yang satu mengenakan kerudung biru tua, wajahnya tenang dan dewasa. Yang satu lagi memakai kerudung hitam, matanya berbinar ceria seperti pagi yang baru lahir. Mereka terlihat sangat akrab, seperti sahabat sebaya. Padahal, di antara keduanya ada jarak waktu 12 tahun.

Memandang pemandangan itu, hati saya terasa hangat. Rasanya seperti menyaksikan sebuah babak kehidupan yang indah — babak yang dulu hanya bisa saya bayangkan ketika pertama kali menjadi seorang Ayah.

Saya memiliki empat orang anak. Yang pertama perempuan, kedua laki-laki, ketiga perempuan, dan keempat laki-laki. Dua pasang — dua sayap yang memberi saya alasan untuk terus melangkah dalam hidup ini.

Anak pertama saya lahir pada 1998. Saat itu, saya benar-benar baru belajar menjadi Ayah. Saya masih kaku memeluk, masih canggung menenangkan tangis malam, tapi hati saya sudah dipenuhi rasa cinta yang besar. Dia tumbuh bersama saya — belajar, jatuh, bangkit, dan berjalan beriringan.

Lalu, pada 2010, lahirlah anak ketiga saya — seorang gadis kecil yang membawa keceriaan baru ke dalam rumah. Saat itu saya sudah lebih matang sebagai Ayah. Saya lebih tenang, lebih sabar, dan lebih tahu bagaimana mencintai anak dengan cara yang tidak terburu-buru.

Mereka berdua seperti dua mata air dari dua musim berbeda — satu muncul saat saya baru belajar mencintai, satu lagi saat saya sudah memahami makna cinta itu sendiri.

Tawa yang Menghapus Lelah

Saya pernah melalui banyak masa sulit. Saat anak-anak masih kecil, hidup bukan perkara mudah. Malam-malam panjang menemani mereka demam. Dompet yang tidak selalu tebal. Lelah yang sering saya telan dalam diam. Tapi semua itu saya jalani dengan satu keyakinan: anak-anak adalah amanah terindah.

Melihat mereka tertawa seperti hari ini, semua rasa lelah itu seperti terhapus. Tawa mereka membayar semua perjuangan. Saat saya memperhatikan mereka dari jauh, hati saya serasa diusap lembut. Saya tidak butuh apa-apa lagi selain momen seperti ini.

Banyak orang mengira, perbedaan usia 12 tahun akan membuat hubungan kakak-adik terasa jauh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Anak pertama dan anak ketiga saya tumbuh menjadi dua pribadi yang saling melengkapi.

Si sulung menjadi sosok kakak yang bijak — tempat adiknya bercerita dan bersandar. Si adik membawa keceriaan — warna segar yang membuat kakaknya selalu muda dalam tawa. Mereka seperti cermin dari dua masa dalam hidup saya: masa saya belajar menjadi Ayah, dan masa saya memahami menjadi Ayah.

Saya sering terdiam saat melihat mereka berdua bercanda. Ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa syukur yang tumbuh dalam hati saya.

Saya bukan Ayah yang sempurna. Tapi sejak awal, saya selalu berusaha menanamkan cinta dalam rumah ini. Cinta dalam bentuk perhatian, pelukan, dan doa yang tak pernah putus. Cinta yang tidak diukur dengan harta, tapi dengan ketulusan hati.

Saya tidak bisa selalu berada di sisi mereka. Anak-anak akan tumbuh, menemukan jalan mereka masing-masing. Tapi saya percaya, cinta yang saya tanamkan akan tetap hidup dalam hati mereka. Ia akan tumbuh menjadi akar yang kuat, tempat mereka berpijak dan kembali.

Doa di Tengah Malam

Kadang, saat malam larut dan rumah sudah sunyi, saya duduk sendirian. Di saat seperti itu, saya sering teringat masa lalu: masa ketika mereka masih kecil, ketika suara tawa memenuhi rumah, ketika langkah kecil mereka berlarian di lantai.

Saya tahu waktu terus berjalan. Suatu saat nanti mereka akan benar-benar dewasa, membangun kehidupan masing-masing. Tapi dalam hati saya selalu ada doa yang sama: “Ya Allah, jaga mereka. Buat mereka bahagia. Satukan mereka dalam kasih sayang, meski jarak nanti memisahkan.”

Banyak orang mengukur kebahagiaan dengan hal-hal besar. Tapi bagi saya, kebahagiaan sejati justru sering muncul dari hal-hal kecil. Seperti sore ini, saat dua anak perempuan saya duduk berdampingan, tertawa bersama, dan membuat kenangan kecil.

Saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa melihat pemandangan seperti ini. Tapi satu hal yang saya tahu: saya ingin menjadi saksi kebahagiaan mereka selama saya hidup.

Selama saya masih punya napas, saya ingin menjaga tawa itu. Saya ingin menjadi tempat pulang yang hangat. Saya ingin mereka tahu bahwa ada seorang Ayah yang selalu mencintai mereka, tanpa syarat, sampai akhir nanti.


Catatan hati:
Saya tidak pernah meminta hidup yang sempurna. Saya hanya ingin melihat anak-anak saya tumbuh, saling menyayangi, dan bahagia. Karena pada akhirnya, bagi seorang Ayah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada menyaksikan tawa anak-anaknya—tawa yang lahir dari cinta yang tulus.

Sort:  

Sep senang teuh na ayah lage pak Zainal, hehehe..

Terima kasih Bang @midiagam i lon pih seunang chit. Karena hana manduem geu bri le po teuh Allah aneuk berpasangan. Na yang agam manduem, na yang ineng manduem. Bahkan na yang hana.

Alhamdulillah, berarti ka lengkap kebahagiaan lam rumoh tangga, mangat hate takalen.