SEPEKAN KETIKA ACEH DIUJI AIR, TANAH, DAN KETABAHAN

in STEEM Literacy2 months ago (edited)

63637ff01f47b.jpg

DALAM sepekan terakhir, Aceh terbangun dari tidur paginya bukan oleh kokok ayam, melainkan oleh gemuruh hujan yang berembus tak henti. Angin membawa air dari langit, lalu menumpahkannya seperti ingatan lama yang enggan reda. Dalam deras yang panjang itu, sungai-sungai yang biasanya sopan berubah menjadi raksasa yang lapar; lereng-lereng yang selama ini rapuh akhirnya menyerah, runtuh perlahan kemudian sekaligus, menutup jalan, rumah, dan harapan dengan tanah dan batang pohon.

Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak 21 hingga 28 November 2025. Minggu ini bukan sekadar musibah, melainkan ujian panjang yang memaksa ribuan keluarga mencari tempat berlindung dari sesuatu yang tak bisa mereka hentikan.

Data resmi mencatat lebih dari 25 ribu jiwa terdampak banjir dan longsor di berbagai kabupaten. Di beberapa titik, evakuasi bukan lagi tindakan mendesak, tetapi rutinitas sehari-hari. Posko-posko pengungsian menjadi rumah sementara; dapur umum menyala sejak subuh; para relawan belajar membagi tenaga antara rasa iba dan lelah yang merayap.

Di Aceh Tengah, duka berubah menjadi angka yang membekas: belasan nyawa terenggut, puluhan titik longsor memutus akses, dan desa-desa terisolasi berhari-hari. Di satu kampung yang tersapu lumpur, seorang bapak berdiri memeluk pagar rumah yang sudah tak lagi punya pintu. “Rumah saya tinggal separuh,” ucapnya pelan, namun suaranya terbenam oleh tangis cucunya yang memeluk kaki kirinya.

Media nasional memotret semuanya: seorang anak kecil menatap genangan setinggi pinggang, ibu-ibu menggenggam tas plastik berisi dokumen basah, relawan mengantar nasi bungkus sambil menepuk-nepuk bahu warga. Di balik setiap foto, ada kisah yang lebih panjang daripada keterangan gambar.

Organisasi kemanusiaan mengingatkan satu hal yang sering luput dari sudut pandang kamera: anak-anak adalah korban paling sunyi. Sekolah tergenang, buku hanyut, dan trauma yang tak terlihat tetapi menempel erat seperti dingin di tubuh mereka. Beberapa guru mencoba mengajar di posko, menggunakan kardus basah sebagai papan tulis dan suara patah-patah sebagai tanda keberanian.

Namun manusia selalu memiliki cara menjadi lembut di tengah kekerasan alam.

Di sebuah posko pengungsian, seorang ibu menyuapi bayinya sambil tersenyum, seolah mengukir keberanian di antara reruntuhan. Di sudut lain, seorang anak laki-laki membagi sisa biskuitnya kepada adik kecil yang baru ia kenal pagi itu. Seorang relawan tua memijat bahu sesama relawan yang tak tidur dua hari. Mereka tak menunggu pahlawan datang; mereka menjadi pahlawan bagi satu sama lain.

Inilah plot twist yang tidak disangka-sangka: di tengah banjir yang menelan jalan desa dan merobohkan dinding-dinding rumah, banyak warga menemukan kembali jaringan solidaritas yang sempat hilang ditelan kesibukan hidup. Warga yang biasanya hanya saling menyapa sepintas sekarang berbagi perahu karet, memasak bersama, bahkan menyimpan air minum untuk keluarga yang tak lagi punya.

Di tengah bencana, manusia justru hadir paling manusiawi.

Di beberapa lokasi, bantuan pemerintah pusat dan daerah berdatangan: logistik, tenda, obat-obatan, hingga tenaga evakuasi. Namun warga tahu satu hal: sebelum bantuan tiba, tangan pertama yang mengangkat mereka dari air adalah tangan tetangga. Mereka saling mengikatkan tali ke pinggang, menembus arus, menarik anak-anak kecil, dan menuntun orang tua agar tidak jatuh.

Tetapi kenyataan pahit tetap menempel: hilangnya tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, dan pembangunan yang menekan ruang alam membuat hujan ekstrem semakin ganas. Bencana hidrometeorologi hari ini tidak lagi semata soal takdir, melainkan tentang keputusan yang pernah dibuat dan harus bertanggung jawab kepada masa depan.

Di ujung hari, ketika hujan berhenti sejenak, suara-suara berembus dari posko: doa yang lirih, tawa kecil yang muncul dari permainan sederhana, dan helaan napas panjang yang tak lagi mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana bertahan besok pagi.

Di sebuah posko di Aceh Barat, seorang bocah laki-laki yang kehilangan mainannya berkata kepada relawan, “Kalau air surut, saya mau cari perahu saya yang hanyut. Tapi kalau tak ketemu, tak apa. Yang penting kami selamat semua.” Kata-katanya sederhana, tetapi menyayat, seolah mengingatkan kita tentang apa yang paling penting ketika dunia runtuh sebagian.

Feature ini tidak sekadar menuturkan banjir atau longsor. Ini adalah cerita tentang manusia—yang menangis, lalu bangkit; hilang, lalu menemukan kembali; terpukul, namun tetap memilih saling merawat. Mereka mengajari kita bahwa saat tempat berteduh dirampas oleh tanah dan air, rumah sejatinya adalah komunitas yang saling memeluk.

Bencana memang menyisakan luka. Tetapi luka bisa menjadi tempat tumbuhnya kekuatan baru. Ketika malam tiba, suara doa dan rasa tabah berembus lembut—menahan dingin, menenun harapan—bahwa Aceh akan membangun kembali, bukan hanya dengan batu bata dan semen, tetapi dengan kasih sayang yang mereka bagi sepanjang sepekan paling berat ini.