Hidup Berdampingan Dengan Alam

in Steem SEA8 days ago

1000069621.jpg


Mengapa tahun ini banyak sekali cuaca ekstrem. Apakah kamu menyadarinya ?

Musim panas tahun 2026 telah jauh melampaui akal sehat kita.

Di Xinjiang China, langsung mencapai suhu tinggi 50 derajat.

Gurun Taklamakan secara mengejutkan dilanda banjir.

Hujan badai di Guangxi berulangkali memecahkan rekor sejarah.

Angin puting beliung di Hubei datang tiba-tiba, membuat orang bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi.

Di utara, beberapa saat yang lalu, langit masih biru dan berawan putih, dalam sekejap hujan es turun menghantam bumi hingga memutih.

Dan di laut, topan super "Bavi" diatas level 17 sedang mendekati bagian timur negara kita. Suhu tinggi, banjir bandang, hujan es, dan topan muncul silih berganti.

Banyak orang berkata, ini semua karena pemanasan global anomali sirkulasi atmosfir.



1000116721.jpg

Tapi pernahkah kamu berpikir, semua hal yang terjadi tiba-tiba ini tidak pernah terjadi begitu saja tanpa alasan.

Segala sesuatu di dunia ini, pasti ada sebab dan akibat. Hadiah balasan yang diberikan alam kepada kita hari ini, semuanya adalah bernih yang pernah ditanam oleh manusia.

Kita selalu suka berkata manusia pasti bisa menaklukkan alam, dengan bersandar pada teknologi, muncullah kesombongan yang tak bisa dijelaskan.

Lereng gunung dipenuhi mulsa plastik, dan herbisida disemprotkan begitu saja.

Peternak lebah demi hasil, memanen madu tanpa menyisakan setetes pun, memperlakukan lebah layaknya alat produksi tanpa belas kasihan.

Menginginkan kenyamanan, AC dinyalakan siang dan malam.

Makan buah diluar musimnya dianggap sebagai hal yang wajar.

Barang sekali pakai dibuang begitu saja. Kita hanya memedulikan kenyamanan sesaat didepan mata, namun lupa bahwa dua musim memiliki ritmenya sendiri, langit dan bumi memiliki hukumnya sendiri. Seperti yang diberitahukan oleh hukum Entropi kepada kita, sebuah sistem yang hanya tau cara mengambil, tanpa tau cara merawat, akhirnya hanya ada satu, menuju kekacauan, gletser mencair, iklim menjadi anomali, cuaca ekstrem datang bertubi-tubi.

Bukan karena alam sedang dalam suasana hati yang buruk, melainkan seluruh ekosistem sedang membunyikan alarm peringatan.

Alam tidak pernah menargetkan siapa pun, ia hanya mengikuti sebab dan akibat. Jika peringatan kecil tidak bisa menyadari kita, ia akan menggunakan gerakan yang lebih besar untuk mengingatkan.

Jika musibah masih tidak bisa membuat orang sadar, bencana akan datang silih berganti.

Gempa susulan beberapa bulan yang lalu, hari ini masih terulang kembali.

Penyakit ganas dikalangan anak muda yang semakin banyak, juga bukanlah suatu kebetulan, bagaimana kita memperlakukan alam.

Semua kesulitan adalah buah dari apa yang kita tanam sendiri.

Manusia dan alam menjadi satu, itu bukanlah omong kosong.

Selalu tanamkan rasa hormat dan segan, barulah kita tau kapan harus berhenti bertindak.

Langit dan bumi begitu luas, manusia tidak lebih dari sekecil butiran debu di dalamnya.

Kita bukanlah penguasa alam, melainkan hanya menerima manfa'atnya.

Sinar matahari, embun hujan, tumbuh-tumbuhan dan hutan selalu memelihara kita.

Namun, banyak orang telah terbiasa menerima, tetapi perlahan kehilangan rasa syukur.

Mungkin ada yang merasa menghormati alam, itu adalah urusan orang-orang besar, apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa ?

Sebenarnya rasa hormat tidak pernah membutuhkan hal-hal yang bombastis.

Ia tersembunyi di dalam pilihan-pilihan kecil setiap harinya.

Pertama, singkirkan kesombongan. Jangan selalu berpikir untuk menaklukkan alam.

Ikutilah pergantian musim, bekerja saat matahari terbit, beristirahat saat matahari terbenam, jangan melawan hukum alam.

Kedua, mulailah dari hal-hal kecil. Siapkan piring dan sendok di rumah, jangan gunakan alat makan sekali pakai saat memesan makanan.

Bawa tas kain saat keluar rumah, kurangi penggunaan kantong plastik.

Hemat listrik dan air, kurangu makan buah-buahan diluar musimnya, kurangi menyentuh makanan instan hasil rekayasa teknologi.

Mengendalikan kebiasaan buruk diri sendiri.

Ke tiga, simpankah niat baik di dalam hati. Jangan merasa orang biasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Efek kupu-kupu tidak pernah hanya sekedar omong kosong.

Hanya dengan mengeluarkan belasan rupiah, kita bisa menanam satu pohon di gurun pasir.

Mendukung perlindungan hewan liar, menghargai setiap rumput dan pohon disekitar kita.

Sedikit niat baik dari setiap orang yang terkumpul akan menjadi kekuatan yang membawa perubahan.

Satu pikiran menuju kebaikan, itu adalah bentuk menanam keberkahan.

Kebaikan sejati, tapi juga menaruh kepedulian pada seluruh alam semesta.

Jangan menunggu sampai bencana datang, baru merasa ketakutan.

Jangan menunggu krisis muncul, baru mulai merenung

Jika secara keseluruhan hancur, individu di dalamnya pasti ikut hancur.

Jika bumi bermasalah, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Daripada mengeluh takdir tidak adil, lebih baik tenangkan hati untuk introspeksi diri.

Alam sama sekali tidak bermaksud menghukum kita, ia hanya sedang mengoreksi kesalahan kita.

Bencana angin dan hujan, juga bukanlah siksaan dari langit dan bumi, melainkan untuk membangunkan kita yang tersesat.

Terakhir, saya ingin mengatakan singkirkan keangkuhan, lepaskan keserakahan.

Bila kita memperlakukan gunung, sungai, dan seluruh makhluk dengan baik, alam barulah akan melindungi kehidupan manusia. Bila kita tau cara menghormati alam semesta, barulah anak cucu kita dapat memiliki masa depan yag tenteram.

Semoga kita semua senantiasa rendah hati, tau cara bersyukur, menjaga nurani dengan baik, mematuhi hukum alam, hidup berdampingan dengan alam, berjalan seiring dengan seluruh makhluk ciptaan-NYA.

Salam kompak selalu.

By @midiagam

Sort:  

Your descriptions of the extreme weather events in China this year are eye-opening and thought-provoking, making me wonder if we're indeed experiencing a new normal. I'd love to hear more about your thoughts on the connection to pemanasan global anomali sirkulasi atmosfir.