Mengasuh Dan Mendidik Anak
Membesarkan anak laki-laki atau anak perempuan, mana yang lebih baik. Kelangsungan kehidupan sama alaminya seperti pergantian dua musim. Anak-anak datang ke dunia ini melalui kita, tetapi mereka bukan hadir untuk hidup demi kita. Ini adalah kebenaran yang pada akhirnya akan dipahami oleh setiap orang tua.
Ada pepatah yang mengatakan, "Anak-anakmu, sebenarnya bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak yang terlahir dari kerinduan kehidupan akan dirinya sendiri".

Kita sering terjebak dalam pemikiran membesarkan anak untuk masa tua dan meneruskan garis keturunan. Namun kita lupa bahwa yang seharusnya keluar dari kepompong itu adalah jiwa yang mandiri.
Anak itu ibarat sebuah cermin, ia memantulkan kegelisahan yang kita sembunyikan dibalik ketidaksabaran, serta kegelisahan yang tersembunyi dibalik sikap acuh tak acuh kita. Suasana keheningan saat ini lebih bermakna daripada kata-kata dari para penyair, persis seperti awal mula alam semesta yang terkandung dalam celoteh seorang bayi.
Saat balita tertatih-tatih belajar berjalan, dan kita membungkuk untuk menopangnya , kita tiba-tiba mengerti makna mendalam dari pepatah barusan.
Suara burung kutilang muda lebih jernih daripada kutilang tua. Saat mereka mulai berceloteh belajar bicara, dan kita mendengarkan dengan seksama, barulah kita memahami esensi sejati.
Jika hati ini terang benderang, apalagi yang perlu dikatakan. Ternyata bukan kita yang mengajari mereka untuk tumbuh dewasa, melainkan mereka yang menggandeng tangan kita untuk menyusuri kembali masa kecil. Memaksa kita untuk berdamai dengan ketidaksabaran diri sendiri, dan berdamai dengan penyesalan dimasa lalu.
Alasan mengapa mengasih anak itu sulit adalah karena sulitnya menjaga batasan yang pas. Lebih baik berhenti sebelum wadah terisi penuh dan tumpah. Cinta harus seperti angin musim kemarau, dan hujan yang menyuburkan. Tidak boleh terlalu sedikit, namun tidak boleh berlebihan.
Mendidik anak harus seperti bendungan yang mengarahkan air, tidak boleh terlalu longgar dan tidak boleh terlalu ketat. Kita selalu berharap agar anak-anak cepat dewasa dan pengertian, namun kita lupa bahwa tanaman memiliki ritme pertumbuhannya sendiri. Ekspektasi kita tidak akan pernah bisa menggantikan kecepatan tumbuh kembang mereka sendiri.
Ikatan antara orang tua dan anak, sesungguhnya hanya berarti bahwa adalah terus menerus memandangi punggungnya yang melangkah semakin jauh. Kita mengajari anak melangkah untuk pertamakalinya, membiarkan mereka melangkah menuju dunia yang luas.
Sebagia besar cinta di dunia ini mendambakan kebersamaan, hanya cinta orang tualah yang sejak awal mengarah pada perpisahan. Kelak akan tiba harinya sosok kecil yang dulu berada dipelukan kita akan tumbuh menjadi cahaya yang menerangi dunia. Sedangkan yang perlu kita lakukan adalah benar-benar mengasuh dan mendidik mereka, bukan hanya sekedar ikatan darah, tetapi lebih pada pemahaman.
Jadi, apa bedanya membesarkan anak laki-laki atau anak perempuan. Mereka semua adalah cermin dan lentera dalam hidup kita. Cermin yang memantulkan diri kita sendiri dan lentera yang menerangi jalan di depan. Makna dari sebuah warisan, bukanlah sekedar meneruskan garis keturunan, melainkan jiwa yang saling menjaga satu sama lain, bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan untuk dilepas pada waktu yang tepat.
Ketika kita berdiri dipersimpangan waktu, memandang anak perlahan pergi menjauh, kita akhirnya akan mengerti, benih yang kita siram dengan penuh kasih sayang, semuanya akan berbuah, namun buah itu bukan milik sang tukang kebun, melainkan milik seluruh hutan. Cahaya itu bukanlah milik orang yang menyalakan lentera, melainkan milik seluruh dunia yang membutuhkan terang.
Terakhir ingin saya sampaikan, garis akhir dari mengasuh anak bukanlah untuk memiliki, melainkan melepaskan kepergian mereka. Mengantarkan mereka dengan pandangan mata, membawa cinta yang kita berikan untuk menapaki jalan mereka sendiri, untuk menjadi sosok yang memang sudah ditakdirkan untuk mereka. Inilah karunia kehidupan yang paling dalam, dan juga merupakan pelajaran paling agung sebagai orang tua.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
