The Diary Game, September 3, 2026 | Work and Shop: Enjoying the Bleisure Side of Jakarta

Hᴇʟʟᴏ ꜱᴏʙᴀᴛ ᴋʀᴇᴀᴛɪꜰ...
Di kota-kota besar dunia perubahan terjadi hampir setiap waktu, bagi sebahagian orang yang tinggal di kawasan urban yang padat seperti Jakarta adalah penjara, namun sebahagian lainnya menjadikan wilayah dengan kepadatan penduduk sekitar 16.142 jiwa per km2 justru menjadi ladang mengais rezeki untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Awalnya aku masih ragu membenarkan argumen "biaya hidup di kota - kota besar jauh lebih tinggi" ketimbang kami yang bermukim di wilayah terpencil seperti Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Tapi faktanya memang demikian. Hari ke-2 berada di Jakarta dalam rangka mendampingi atasan untuk urusan kedinasan, aku memahami betapa sulitnya dapat menikmati segelas kopi sekelas Robusta dan satu mangkuk mie instan rebus tanpa mengantongi nominal rupiah yang cukup. Ini berlaku bagi kami yang berstatus sebagai tamu yang jarang datang ke Jakarta, beda halnya bagi mereka yang beridentitas sebagai warga setempat yang memahami kompas dimana lokasi pedagang kopi termurah.

Sebetulnya kisah ini adalah sambungan dari The Diary Game ku sebelumnya bertema Work trip to Jakarta with a coworker. Setelah menempuh perjalanan pagi dari tempat penginapan, kami tiba di gedung Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Mungkin terkesan sangat serius, karena tujuan kami ke Ditjen Bangda bukan sekedar melakukan koordinasi tentang upaya-upaya yang dapat kami lakukan guna terlaksanya pembangunan perumahan komunal pasca bencana hidrometeorologi, juga sinkronisasi anggaran untuk pembebasan lahan oleh pemerintah daerah yang aman serta tidak berakibat hukum di kemudian hari.
![]() | ![]() |
|---|
Usai berdialog intensif dengan beberapa pejabat terkait, kami pun keluar dari gedung berlantai 8 tersebut yang berlokasi di Jl. Taman Makam Pahlawan, No. 20 Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Selanjutnya kami memesan taksi online (Grab) menuju kawasan M.H Thamrin, Jakarta Pusat untuk sekedar menikmati suasana salah satu pusat perbelanjaan "Trade Center" yang terkenal padat dan ramai dikunjungi seperti Mall Thamrin City.

Terus terang! Sepanjang jalan nafasku terasa sesak melihat kondisi ibukota yang dihimpit gedung-gedung pencakar langit, perasaanku seakan terkurung dengan dinding yang membatasi ruang gerak, aku sama sekali tidak menginjak tanah basah, rumput liar dan kicauan burung, melainkan asap, suara mesin pada ribuan kendaraan yang terus meraung sepanjang waktu.

Grab kami berhenti di lobi Thamrin City, mau tidak mau aku mengikuti langkah-langkah mereka yang mulai memasuki salah satu trade center paling difavoritkan oleh warga kota dan pendatang. Ya, kami mulai berkeliling pusat perbelanjaan dengan berbagai penawaran diskon yang memikat.
Aku berupaya menahan ego, mengurung niat untuk berbelanja kebutuhanku sendiri karena lembar IDR di saku celanaku benar-benar terbatas, kecuali membeli beberapa pakaian anak-anakku pada etalase yang saat itu terpasang papan diskon yang lumayan besar.
![]() | ![]() |
|---|
Usai berbelanja dan menjelajahi deretan etalase pertokoan yang memamerkan beragam produk, lambung kami mulai diserang rasa lapar, lantas menuju lantai dasar untuk mencari makanan. Dibarengi perasaan bingung Kami terus melangkah hingga tiba di area parkir mall, disana tampak sejumlah penjual makanan dikerubuni para pembeli yang sama sekali tidak kami kenal.
Selesai menikmati makan siang bukannya beranjak pulang ke penginapan, melainkan kembali ke lantai dua Thamrin City. Aku mengikuti keputusan tersebut meskipun hatiku menolaknya.

Aku tidak lagi berniat untuk membeli apapun, meskipun leherku tidak pernah henti berpaling ke semua arah melihat berbagai jenis produk yang dipajang di sejumlah etalase.
Tas-tas kecil mulai memberi beban pada pergelangan tanganku yang terus terayun seiring langkah kaki meskipun isi belanjaanku tidak seberapa berat. Akhirnya kami sepakat untuk keluar dari Mall tersebut, kami langsung memesan taksi online karena disana tidak ada tempat duduk dan bersantai tanpa memesan produk makanan.

Sekitar pukul 15.00 wib Grab-car pesanan kami tiba di lokasi, aplikasi Grab menunjukkan biaya yang harus kami bayar dari lokasi ke tempat tujuan (Cosmo Maroossa Hotel di kawasan Kemang, Jakarta sejumlah 38.000 IDR atau setara dengan 39 Steem (harga saat konversi.

Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant






Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
https://x.com/peephotnews/status/2101676220253626782
Terima kasih kanda @miftahulrizky 🙏