SLC-S29/W4-“Thinking and Ideas!| Rethinking the Normal!”

Aku memulai dari makna kata "Diterima". Diterima adalah korelasi / kontinuitas sosial antara kelompok sebelumnya sebagai pencipta (pewaris) dan kelompok sesudahnya sebagai penerima (penerus). Dalam konteks sosial dan budaya suatu praktik normal diterima secara luas didasarkan pada hasil bukti konsep melalui dua proses pengakuan akal sehat, yakni validasi dan legitimasi.
Hari ini, masih banyak prilaku yang dilakukan secara berulang karena dinilai hal normal oleh individu, sekelompok masyarakat bahkan berskala nasional berdasarkan kepercayaan, tradisi bahkan fakta yang kemudian menjadi praktik warisan dan dilakukan secara turun temurun. Sebagai contoh adalah Perayaan hari Kemerdekaan, kenapa hal ini dianggap normal!, karena tidak menyalahi aturan dan diterima oleh akal sehat sebagai praktik tradisi untuk menghargai identitas negara karena kemerdekaan hasil nyata sebuah perjuangan suatu bangsa.
Ini ide tantangan menarik dari @ninapenda untuk mengasah cara pikir kami melalui tema SLC-S29/W4-“Thinking and Ideas!| Rethinking the Normal!”.
Memikirkan Kembali Hal yang Normal!
Ziarah Kubur bukan sekedar tradisi kepercayaan namun sebagai upaya mempererat hubungan emosional dengan masalalu. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh mayoritas muslim di Indonesia. Kenapa diterima sebagai praktik Normal? karena ritual ini bentuk menghargai hak kepercayaan dan hak atas kebutuhan psikologis, dan kemudian dipraktikkan secara berulang sebagai hal normal dalam kehidupan sosial masyarakat muslim.
Lantas, kenapa harus dipertanyakan? Apakah "praktik normal" sebagai bentuk taat (kepatuhan) yang dipaksakan terhadap nilai-nilai, atau cara pandang seseorang karena alasan tidak lagi relevan dengan tatanan global saat ini dan, atau dianggap menjadi penghalang kebebasan berpikir dan berkreativitas?
Dan, Kenapa dipercaya? Tanpa dasar (dalil) dan kemampuan proses berpikir yang kompleks (kognitif) manusia akan sulit mengakui sesuatu yang tidak berbentuk dan memberi efek langsung, kecuali hanya menjawab berdasarkan realitas fisik.
Kenapa orang jarang menantangnya?
Pembuktian suatu praktik sebagai hal "normal" perlu intervensi akal sehat untuk meyakini suatu prilaku yang bersumber dari nilai-nilai agama, bukan mengakui dan membenarkan atas dasar keinginan yang dipaksakan atau tanpa dalil kuat. Kedua; Tradisi Ziarah Kubur diterima dengan baik oleh mayoritas muslim karena cukup bukti yang dipercaya bukan sebagai ritual yang bertentangan dengan hukum syariat Islam, aturan negara dan hukum adat-istiadat.
Ini sebabnya kenapa praktik Ziarah Kubur jarang ditantang secara umum, karena telah dibentuk oleh kepercayaan dan pengetahuan yang mengakar dari sumber hukum, kesepakatan para pemuka agama serta didukung oleh dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan atas dasar pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya.
Apa yang bisa diperbaiki jika cara normal ini di ubah,
Tradisi adalah kebiasaan yang lahir atas dasar kepercayaan dan telah melekat sejak lama pada sekelompok mayoritas muslim khususnya di Indonesia. Mengubah suatu tradisi bukan hal mudah tanpa alasan dan tujuan yang mampu diterima oleh akal sehat. Ziarah Kubur bukan sekedar tradisi tapi telah dipercaya sebagai bentuk ibadah yang dianjurkan dalam syariat islam.
Bukan menghilangkan, namun memperbaiki / meluruskan perspektif yang salah serta tata cara pelaksanaan yang keliru;
- Ziarah Kubur adalah sarana peningkatan hubungan emosional dengan Pencinta dan momen penting mengingat kematian
- Ziarah Kubur bukan menyembah objek atau bertujuan meminta do'a dan syafa'at pada mayit orang alim atau ulama.
- Membantah kekhawatiran terhadap persepsi bid'ah dan kesyirikan karena ziarah kubur dianggap sebagai ritual mengagungkan atau mengkeramatkan sebuah kuburan.
- Ziarah Kubur dapat dilakukan kapan saja, karena tidak ada aturan dan anjuran khusus yang mengharuskannya pada hari atau waktu tertentu seperti akhir bulan sya'ban dan hari raya.

Apa yang mungkin hilang jika itu lenyap sepenuhnya.
Bagi mayoritas muslim, Ziarah Kubur bukan hanya tradisi tapi sebagai ritual pengingat kematian dan sarana refleksi spiritual untuk membatasi keterikatan manusia terhadap kehidupan duniawi. Jika tradisi ini dilenyapkan, maka konsekwensi utama adalah terputusnya koneksi spiritual dan evaluasi rohani dimana kehidupan baru melalui kematian adalah kenyataan yang harus diterima dan dibenarkan oleh semua pemilik akal sehat.
Kuburan hanyalah tempat jasad bukan tempat ruh, dan manusia tidak mengetahui tempat dan keadaan ruh setelah kematian. Jadi, atas dasar inilah mayoritas muslim meyakini bahwa Ziarah Kubur bukan hanya sarana untuk mengingat batas akhir kehidupan manusia, tapi sarana spiritual untuk pendekatan diri kepada Pencipta.
Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan berharap anda membacanya serta memberi masukan atas kesalahan penulisan.
Mengundang kanda @muzack1 @josepha dan @dove11
salam,
@ridwant
You specifically mention the tradition of visiting the graves of deceased ancestors. All over the world where funeral rituals existed, such recurring visits probably took place, even to the point of a cult of the dead. Now, in this country, the understanding is shifting away from religious belief in the afterlife towards a biological-technical expectation: decay and transition into the cycle of nature. There is no need to complicate this with a coffin, nor is there any need to celebrate it as something special. We all die. I would like to be buried somewhere, anonymously, without any marking on the grave. No one will come to visit me, because the only important things are the memories associated with me and life in the present. Isn't there a saying somewhere: Let the dead rest in peace?! Take care of the living ;-))
0.00 SBD,
5.48 STEEM,
5.48 SP
I agree with your thoughts, but it's not that we're the ones hoping for a tradition. Rather, family and close relatives deliberately prioritize someone's death as a form of respect and validation that someone "ever lived" and socialized with other humans during their lifetime. because, a person's name never dies like a physical death.
Yes, some groups in society still question and oppose this tradition because they consider it unimportant and not recommended by religious (Islamic) teachings. I personally still find it difficult to interpret the meaning of death traditions other than adhering to "tazkirah," meaning seeing death as a reminder of humanity's final destiny.
Thank you @weisser-rabe for taking the time to respond to this simple post. 🙏
0.00 SBD,
12.82 STEEM,
12.82 SP
@blessedlife 💖

Thank you @blessedlife 🙏
Hi @ridwant (77), welcome to thinking and ideas week 4
Visiting graves, is a way of helping one heal from emotional trauma and connect with loved omes. It has overtime been a way of life of some people. This is solely on culture and traditions, a normal way to say a proper goodbye or to ask for forgiveness or to say things you never did when they were alive. Although I have never visited, but I could feel those emotional connections when I see people who visits.
0.00 SBD,
0.11 STEEM,
0.11 SP
That right. I think this tradition will continue despite opposition from a small segment of the community, and that's normal, as everyone has a different way of thinking.
Thank you very much @ninapenda for your review and verification 🙏
https://x.com/i/status/2018698575266414676
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Thank you for support sir @mahadisalim 🙏🙏