Eksotisme Gunung Rinjani di Tengah Cincin Api (Ring of Fire)
Para pendaki menantang maut menuju puncak Rinjani. Menelusuri bibir kawahnya yang dalam. Seolah terjalin harmonisasi antara pendaki dan Rinjani. Meskipun keduanya bisa saja saling mematikan.
Kelap-kelip head lamp para pendaki seperti kunang-kunang. Berbaris satu-satu menelusuri kawah Rinjani. Jarum jam baru menunjukkan pukul satu dini hari. Gelap. Meskipun malam itu begitu dingin, namun tak menyurutkan langkah para pendaki ini untuk sampai ke puncak Rinjani.
Inilah etape terakhir mereka menuju puncak Rinjani. Dan malam adalah saat yang tepat untuk menuju summit. Karena esok pagi, saat matahari terbit, Rinjani akan menunjukkan pesonanya.
Para pendaki ini meninggalkan perlengkapannya di Plawangan, Basecame terakhir Rinjani. Karena untuk mencapai puncak, kita memang disarankan untuk membawa perbekalan seperlunya.
“Hati-hati, perhatikan langkah!” Ucap salah seorang pendaki, mengingatkan saya yang turut dalam pendakian malam itu.
Memang, track yang akan kami lalui menuju puncak ini begitu ekstrim. Lebar track-nya hanya sekitar dua meter. Sementara sebelah kanannya adalah jurang yang curam, dan sebelah kiri telah menanti kawah Rinjani yang menganga. Di jalan sempit itulah para pendaki melangkahkan kakinya setapak demi setepak, dengan track-nya yang berpasir serta kemiringan hampir 80 derjat.
Lalu, setelah mendaki enam jam dari Plawangan. Akhirnya saya sampai juga di puncak Rinjani. Ketika mentari mengintip perlahan nun jauh di langit timur sana. Perlahan-lahan Rinjani pun menunjukkan pesonanya. Langit biru terbentang indah. Danau Segara Anak pun tampak begitu menawan dari sini, awan tipis teduh memayunginya. Sementara di bawah sana, tampaklah awan cummulus berarak lembut di langit Sembalun.
Sembalun. Ya, dari sanalah titik awal pendakian ini. Setelah 18,5 jam mendaki dari sana, setapak demi setapak, hingga sampai di Puncak Gunung Berapi tertinggi ke tiga Indonesia ini. Dan begitu sampai, segala letih kita memang rasanya terbayar lunas. Menyaksikan pesona Rinjani dari puncaknya, telah menjadi magnet bagi para pendaki untuk rela menempuh track yang panjang itu.
“It’s very beautiful,” ucap Kim, pendaki asal Singapura yang saya temui di puncak Rinjani.
Namun siapa yang menduga? Di balik segala pesonanya itu, ternyata Rinjani memiliki jejak sejarah yang paling mematikan. Buktinya, di wilayah Korleko yaitu pantai timur Lombok yang jaraknya sekitar 30 km dari Rinjani, ditemukan jejak bencana yang mematikan itu. Yaitu ditemukannya timbunan batu apung Rinjani.

Tampak Danau Segara Anak dan Gunung Barujari
Begitu pula danau Segara Anak yang tampak begitu tenang, ternyata adalah akibat dari sebuah letusan gunung berapi yang maha dahsyat. Dulu, Gunung Rinjani purba tingginya adalah 5000 mdpl. Kemudian, akibat letusan dahsyat yang berulang-ulang, mengakibatkan tubuh Rinjani menjadi seperti sekarang ini, ketinggiannya tinggal 3726 mdpl.
Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya kaldera Danau Segara Anak yang lonjong dengan ukuran sisi-sisi terpanjang 4800 m x 3500 m. Dan diameternya sepanjang 10 Km, serta kedalamannya sekitar 230 meter. Jika letusannya hanya sekali, maka semestinya kaldera tersebut bentuknya bulat simetris.
Magma di perut Rinjani sampai sekarang pun terus aktif. Hal ini ditandai dengan terus tumbuhnya Gunung Barujari dari dalam danau Segara Anak. Kini, puncak gunung itu telah mencapai ketinggian 2376 mdpl, dan terus tumbuh tiap tahunnya. Begitulah, di balik airnya yang tenang. Danau Segara Anak punya riwayat yang mematikan.
“Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi/Terdampar di Leneng/Diseret batu gunung yang hanyut/Manusia berlari semua/Sebahagian lagi naik ke bukit”. Itulah salah satu bait dalam labad Lombok, sebuah hikayat zaman dahulu yang tertulis dalam daun Lontar. Bait labad Lombok ini mengungkapkan betapa mengerikannya letusan Gunung Rinjani kala itu.
Apa yang terjadi di Rinjani adalah salah satu akibat karena posisinya berada dalam lingkaran (ring of fire Pacific), atau cincin api Pasifik. Jika dilihat dari atas, cincin api pasifik ini mirip tapal kuda. Membentang mulai dari Selandia Baru, melintasi Indonesia, Filipina, Jepang terus melingkar ke Alaska, California, Meksiko hingga ke Guatemala dan Nikaragua. Jika dihitung jaraknya sekitar 40.000 Km.

Gumpalan awan di tebing Rinjani
Khusus Indonesia, cincin api ini membentang cukup panjang. Akibatnya, wilayah Indonesia kerap mengalami bencana, baik gempa, letusan gunung berapi maupun tsunami. Selain itu, di Indonesia sendiri setidaknya ada 400 gunung berapi. Dan 127 di antaranya merupakan gunung berapi aktif. Selain itu, Indonesia juga menjadi episentrum 90 % gempa bumi, yang 81%-nya merupakan gempa yang memiliki kekuatan terbesar di dunia.
Salah satu bencana dahsyat lainnya yang terjadi di Indonesia, dan tercatat dalam sejarah dunia adalah, letusan Gunung Karakatau pada tahun 1883. Kekuatannya setara 10.000 bom atom yang meledak di Hiroshima.
Memicu tsunami dengan ketinggian 40 meter. Suara ledakkannya terdengar sampai radius 4.600 km, dan menelan korban ratusan ribu orang. Kerangka-kerangka manusia sampai ditemukan mengambang di Samudra Hindia.
Namun di balik semua kengerian itu. Posisi Rinjani yang berada dalam pelukan ring of fair pacific, di sisi lain memberikan berkahnya sendiri. Tercatat ada 109 jenis burung hidup di Rinjani. Tanah-tanah di sekitar lereng Rinjani pun menjadi sangat subur. Kondisi ini sama seperti tempat lain yang berada di lereng gunung berapi. Masyarakat di sekitar Rinjani pun banyak yang bercocok tanam.

Mensyukuri Karunia Tuhan di Puncak Rinjani
Selain itu, jejak-jejak mematikan Rinjani justru memberi daya tarik sendiri bagi para Pendaki. Setiap tahunnya ribuan pendaki datang kemari, baik dalam maupun luar negeri. Hanya saja, sebagian pendaki kadang tidak menjaga dan merawat kelestarian Rinjani. Seperti banyak ditemukannya sampah di pos-pos pendakian.
Begitulah, Rinjani memang telah menjadi geowisata yang cukup terkenal. Para pendaki menelusuri lereng-lereng kawahnya. Menuju titik yang paling mematikan dari gunung ini. Antara menantang maut, dan mencoba berharmonisasi dengan alam. Rinjani menyajikan pesonanya, manusia datang berduyun-duyun menikmatinya. Meskipun dalam kondisi tertentu, keduanya bisa saja saling mematikan.




Exactly what I'm looking for... thanks
Oh yeah, congrlazt... you find it :D
wow, amazing.
Kiban? Pajan ta jak lom Rinjani Bang :D
Bah cair ilee bang hahaha
Ke puncak gunung ternyata pake jersey klub idola juga... Salut bang
Inilah namanya setia haha
Congratulations @abahharuna! You have completed some achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :
Click on any badge to view your own Board of Honor on SteemitBoard.
For more information about SteemitBoard, click here
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word
STOPOke, Thanks :)
Fotonya bagus2 nu...
cuma pakai camdig Bang :))