Pemandangan Sawah Setelah Panen
Jam 7 pagi aku udah di sawah. Bukan mau kerja. Panennya udah selesai kemarin. Hari ini cuma mau duduk, ngopi, dan ngerasain.
Sawah di depan mata udah gundul. Tinggal jerami sisa potongan padi. Tapi aneh, justru pas gundul gini dia keliatan paling luas. Lapang. Plong.
Dari pematang tempatku duduk, keliatan bukit-bukit nun jauh di sana. Biru tipis karena embun. Berlapis-lapis kayak undakan ke langit. Di pinggir sawah, pohon kelapa berdiri tinggi. Daunnya goyang pelan kena angin, bunyinya kemresek, ngajakin ngantuk.
Langitnya? Masya Allah. Biru, bersih, nggak ada awan nakal. Matahari baru naik setengah, cahayanya kuning hangat. Bukan panas, tapi kayak selimut.
Aku tarik napas panjang. Bau jerami, bau tanah basah, bau embun. Itu bau kampung. Bau tenang.
Nggak ada suara motor. Nggak ada notifikasi hape. Cuma ada suara jangkrik pulang, burung pipit rebutan sisa gabah, sama suara angin lewat di sela kelapa.
Di momen ini aku sadar, rezeki itu nggak cuma gabah yang udah di karung. Rezeki itu juga pagi kayak gini. Duduk, sehat, bisa liat pemandangan yang nggak dijual di mall.
Sawah ngajarin aku ikhlas. Sudah ditanam, dirawat, dipanen, sekarang dia istirahat. Kosong, tapi nggak sia-sia. Karena habis ini dia bakal siap ditanamin lagi.
Hidup kita juga gitu kali ya. Ada masa penuh, ada masa kosong. Nikmati aja dua-duanya.
Buat teman Steemit yang penat sama kota, sesekali main ke sawah. Duduk di pematang. Bawa kopi item. Dijamin, kepala jadi enteng.
Salam damai dari pematang sawah,
Banda Aceh.
Salam kompak selalu.
By @midiagam









