Indahnya Bunga Rebung Kala
Bunga rebung kala yang indah dibelakang rumah. Nggak ada yang nyangka. Rebung kan biasanya cuma dipetik, direbus, terus jadi sayur lodeh. Diam-diam tumbuh tinggi, jadi bambu, terus lupakan masa mudanya.
Tapi rebung di belakang rumah saya beda.
Dia tumbuh di pojok, tempat yang jarang kejamah. Tanahnya agak lembab, kena matahari cuma sore. Orang lewat cuek aja. "Ah, rebung biasa."
Sampai suatu pagi, saya liat ada yang aneh di pucuknya. Bukan daun. Bukan tunas baru. Tapi sekuntum bunga. Kecil, putih kekuningan, mekar malu-malu di antara pelepah.
Saya bengong. Tetangga lewat saya panggil: "Bu, rebung saya berbunga!" Beliau ketawa: "Langka itu mas. Rebung berbunga tandanya udah tua banget. Mau mati dia."
Iya, rebung berbunga artinya siklusnya selesai. Setelah ini dia jadi bambu tua, terus mati. Tapi sebelum mati, dia milih mekar dulu. Ngasih lihat ke dunia: "Saya pernah cantik juga lho."
Nggak ada kupu-kupu yang mampir. Nggak ada yang foto-foto. Cuma saya, ayam, sama angin sore yang jadi saksinya.
Dia ngajarin saya: indah itu nggak harus dilihat banyak orang. Cukup mekar di tempatmu, di waktumu. Walau sebentar, walau sepi, walau orang bilang "toh mau mati juga".
Bunga rebung di belakang rumah. Nggak megah kayak mawar, nggak wangi kayak melati. Tapi buat saya, itu bunga paling berani yang pernah saya lihat.
Salam kompak selalu.
By @midiagam






