Bicaralah Yang Sopan
Mengapa kita selalu tidak bisa berbicara dengan baik. Saat kecil, kita sulit merangkai kata untuk berekspresi. Setelah dewasa, perkataan kita seringkali tidak sesuai dengan isi hati. Kita sepertinya selalu terbiasa, sepertinya semakin dekat suatu hubungan, semakin kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Jelas-jelas berawal dari rasa peduli, namun saat diucapkan malah berubah menjadi sebuah celaan. Jelas-jelas itu adalah pengingat yang berniat baik, namum kata-kata yang keluar semuanya hanyalah keluhan. Memecahkan mangkuk seharga beberapa rupiah. Membeli sayuran yang sudah tidak segar, meletakkan sepatu diposisi yang salah. Terlalu banyak hal-hal kecil nan sepele dalam hidup yang menjadi sumber pertengkaran yang tiada henti saat emosi memuncak. Bahkan kita saling melontarkan kata-kata yang kasar. Menggunakan sikap histeris untuk melampiaskan ketidakpuasan, dan menggunakan kebungkaman tanpa suara untuk mendukung satu sama lainm. Karena sudah sangat saling mengenal, kita tau persis dimana tusukan kata-kata akan terasa paling menyakitkan. Karena kedekatan itulah kata-kata yang diucapkan menjadi lebih sembrono dan tanpa batasan. Hargailah perasaan dan emosi tulus didalam bahasa, jangan menggunakannya sebagai peluru untuk menyerang. Terakhir saya ingin mengatakan, saat orang tua bertengkar, tidak peduli siapa yang menang, yang selalu menjadi pihak kalah adalah anak-anak. Saat pasangan berdebat, tidak peduli siapa yang benar atau siapa yang salah. Rasa cinta pada akhirnya akan ikut memudar. Kata-kata yang setajam pisau, namun didalam sebuah hubungan, tidak ada menang atau kalah, dan rumah juga bukanlah sebuah arena perdebatan. Bisa berbicara dengan baik kepada satu sama lain adalah tradisi keluarga yang paling berharga. Semoga kata-kata yang kita ucapkan selalu memiliki batasan. Berbicaralah dengan sopan dan bermoral, dan selalu beresonansi.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
