Indahnya Sunset Di Pantai Bangka Jaya
Hari ini kamis 28 mei, bertepatan dengan hari raya kedua Idul Adha, aku kembali mengunjungi pantai Bangka Jaya, Krueng Geukuh. Aku berdiri di batas antara pasir dan air, HP di tangan tapi mata lebih dulu merekam semuanya tanpa tombol.

Anak-anak berlarian kejar ombak, bapak-bapak duduk melingkar sambil ngopi, ibu-ibu jaga tikar tempat bekal dibagi.
Suasana Idul Adha kedua nggak khidmat seperti pagi takbiran, tapi hangatnya beda, lebih ramai, lebih manusiawi.
Langitnya nggak pelit.
Jingga, ungu, sedikit merah tua saling tumpang tindih di atas laut. Gelombang yang tadinya biasa aja jadi ikut berkilau, seperti seluruh pantai ikut pakai baju baru buat hari raya.

Aku pencet shutter pas seorang bapak mengangkat anaknya tinggi-tinggi biar bisa lihat kapal nelayan yang lewat jauh di sana.
Ketawanya si kecil ketutup suara ombak, tapi matanya bersinar. Di momen itu aku ngerti kenapa orang bilang senja itu jujur.
Dia nggak bikin apapun terlihat sempurna, tapi dia bikin semuanya terlihat tulus.

Foto di HP-ku mungkin nggak akan masuk galeri terbaik. Cahaya agak goyang, orang-orangnya nggak pose. Tapi setiap kali aku buka, aku langsung balik lagi ke sore ini, ke bau garam, ke suara adzan maghrib yang pelan dari mushola dekat pantai, ke rasa bahwa hari raya itu bukan cuma tentang daging qurban, tapi juga tentang berkumpul dan merasa jadi bagian.
Idul Adha kedua mengingatkanku kalau berbagi nggak harus besar. Berbagi senyum, berbagi tempat duduk di pasir, berbagi pemandangan senja yang sama itu juga cukup. Mungkin suatu hari aku lupa tanggalnya, lupa siapa yang ada di sampingku. Tapi warna langit itu, dan rasa tenang di dada waktu motretnya, pasti tetap nyangkut.
Salam senja dari pantai Bangka Jaya, Krueng Geukuh, tempat laut dan warga merayakan hari raya dengan cara paling sederhana.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
