Waktu Lalu Adalah Kenangan dan Masa Depan Adalah Misteri
KAMI bertemu dua hari sebelum bulan Ramadan tiba. Salah stau dia antara kami yang menjadi penelepon. Mencari tempat dan menentukan waktu. Tapi pertemuan ini menjadi sesi yang hampir tak pernha menjadi isyarat, jika setelah ini hanya mneyisakan dua pertemuan lagi. Setelah itu, salah satu di antara kami harus beristirahat penuh. Tak ada lagi pertemuan. Yang ada hanya perawatan secara intensif. Kondisi kesehatan memaksanya untuk tak bisa lagi ke luar rumah, apa lagi ngopi bareng.
Karena itu, kalimat bahwa waktu yang lalu adalah kenangan, waktu kini adalah kesempatan dan masa depan adalah misteri benar sepenuhnya.
