Leubok Pusaka: Hidup yang Terkubur Lumpur

in #indonesia22 days ago

DI PELOSOK Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, air bah telah surut. Namun yang tertinggal bukan sekadar genangan, melainkan lumpur pekat, puing-puing rumah, dan kehidupan yang tercerabut dari akarnya. Desa Leubok Pusaka menjadi salah satu saksi paling sunyi dari kedahsyatan banjir bandang yang melanda wilayah ini.

Hampir tak ada sudut desa yang luput dari amukan air. Rumah-rumah yang dahulu berdiri rapat kini rata dengan tanah. Sebagian hanya menyisakan fondasi, sebagian lain miring menunggu roboh. Batang-batang kayu berdiameter besar tergeletak di tengah permukiman, terbawa arus dari hulu, seolah menegaskan betapa kuatnya terjangan banjir yang datang tanpa peringatan.

Warga mengais sisa-sisa hidup mereka dari lumpur. Piring, pakaian, lembaran buku sekolah, hingga foto keluarga yang telah pudar warnanya. Di antara bau tanah basah dan reruntuhan, orang-orang bekerja dalam diam. Tidak banyak kata. Barangkali karena duka terlalu berat untuk diucapkan.

Banjir bandang bukan hanya merobohkan rumah, tetapi juga memutus denyut kehidupan. Ladang dan kebun lenyap, ternak hilang, jalan desa rusak parah. Akses keluar-masuk sempat terputus total, membuat Leubok Pusaka terisolasi berhari-hari. Listrik padam. Komunikasi terhenti. Malam dilalui dalam gelap, hanya ditemani suara serangga dan kekhawatiran akan hujan yang kembali turun.

Namun di tengah keterpurukan, warga bertahan. Mereka saling berbagi makanan seadanya, menumpang di rumah kerabat yang masih tersisa, atau mendirikan tenda darurat di tanah yang mulai mengering. Anak-anak berlarian di antara lumpur yang mengeras, mencoba menemukan kembali dunia mereka yang sempat hilang.

Perlahan, bantuan datang. Alat berat mulai membuka jalan, relawan membantu membersihkan desa, dan logistik berdatangan. Tetapi bagi warga Leubok Pusaka, pemulihan bukan soal hari atau pekan. Ia adalah perjalanan panjang untuk membangun kembali rumah, mata pencaharian, dan rasa aman yang runtuh bersama banjir.

Setiap sekop lumpur yang disingkirkan adalah upaya menyelamatkan harapan. Setiap tembok yang kembali ditegakkan adalah tanda bahwa hidup harus terus berjalan. Leubok Pusaka mungkin luluh lantak, tetapi warganya belum menyerah. Di atas tanah yang porak-poranda ini, mereka bersiap menanam ulang masa depan.